Thursday, May 28, 2009

Mengemis Cinta

Ya Allah,
Cintailah kami sehingga kami dapat mencintai Mu

Ya Allah,
Cintailah kami sehingga kami dapat mencintai orang-orang yang mencintai Mu

Ya Allah,
Cintailah kami sehingga kami dicintai oleh orang-orang yang mencintai Mu

Ya Allah,
Cintailah kami sehingga kami terlindung dari orang-orang yang membenci Mu dan orang-orang yang membenci syariat Mu

Wednesday, February 4, 2009

Struggling to Surrender

Kawan saya bercerita dengan tenang, walau dia tak kuasa menyembunyikan kesedihannya. Sebuah keputusan besar telah dibuat beberapa waktu lepas, keputusan untuk berpisah. Keputusan yang memisahkan ia dan istrinya untuk selamanya. Setelah berjuang sekian lama dengan chemoteraphy, akhirnya pasangan suami-istri itu membuat suatu keputusan yang menurut mereka begitu rasional dan baik bagi kepentingan banyak pihak. Mereka memutuskan untuk menghentikan usaha mereka untuk mempertahankan hidup sang istri. Cukup, cukup sudah perjuangan dan usaha yang telah dilalui. Mereka memutuskan untuk menikmati sisa hidup sang istri, tanpa harus si istri tersiksa dengan prosedur chemoteraphy.

"Cancer is just a matter of statistics. For brest cancer, 80% of the patients can be cured, but my wife was in the 20% part"

Tak berapa lama kemudian sang istripun meninggalkan kawan saya dan dua orang anak perempuannya untuk selamanya......

Terus terang, sebagai seorang Indonesia dengan kultur melayu dan pengaruh islam yang kental, tidak mudah bagi saya membayangkan bagaimana kawan saya bisa mengambil keputusan untuk "menyerah" dengan alasan-alasan (yang dianggapnya) rasional. Tidak mudah bagi saya untuk membayangkan istri kawan saya menunggu kematiannya yang menjemput datang tanpa ia melakukan perlawanan. Dalam pandangan teman saya dan kebanyakan orang Belanda, perjuangan yang telah mereka lakukan tak lain adalah perjuangan untuk pada akhir menerima kenyataan bahwa mereka harus menyerah, setelah melihat permasalahan secara rasional, menyerah adalah pilihan terbaik, paling tidak menurut mereka. Bagaimana menurut anda?

Dalam bukunya yang judulnya saya pakai sebagai judul tulisan ini (Struggling to Surrender), Jeffrey Lang menceritakan dengan indah perjuangannya mengalahkan egonya untuk menjadi muslim, Seseorang yang terbiasa berfikir rasional mesti menerima islam, kemudian harus bersujud dalam shalat. Bagaimana mungkin seorang yang biasa berfikir rasional, harus menyembah sesuatu yang tak dapat dilihatnya? Entah beberapa kali, ia membatalkan niatnya menapaki tangga surau tempat ia mengucapkan shahadahnya, sampai akhirnya ia menyerah dan memilih memeluk islam.

***

Takdir, seringkali dikaitkan dengan tawakkal dan tindakan rasionaliti. Bilakah kita harus bertawakkal pada takdir yang diterima ataupun bertindak secara rasional?. Lebih dari itu, bila saatnya kita menenggelamkan kedangkalan rasional kita lalu bertawakkal secara mutlak pada Allah?

Dalam hadits dari Anas bin Malik ra berkata: Seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw: “Apakah aku ikat untaku dan bertawakkal atau aku biarkan dan bertawakkal?” Rasulullah saw bersabda: “Ikatlah dan tawakkallah !” (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani). Adalah contoh bagaimana kita harus melakukan tindakan rasional dan mengedepankan akal fikiran sebelum kita bertawakkal. Dalam suatu musibah tersebarnya penyakit di Madinah, Khulafur Rasyidin Umar Ibn Khattab pergi dari Madinah dan mendapat teguran dari seseorang: Mengapa engkau pergi? Bukankah jika takdirmu tidak akan terkena penyakit, maka engkau tidak akan terkena penyakit? Lalu Umar ra menjawab: “Aku berpindah dari takdir yang satu kepada takdir yang lain". Yang menunjukkan betapa seorang Umarpun memilih berfikir secara rasional untuk menghindari penyakit sebelum bertawakkal pada takdir yang mungkin terjadi. 

Lalu apakah salah menenggelamkan rasio dan bersandar penuh pada Allah? Coba anda bayangkan, apa jadinya jika saja Nabi dan para ahlul Badr berfikir memakai rasio yang biasa kita pakai. Bagaimana 300 orang ahlu Badr akan mengalahkan 1000 orang musyrikin? Bagaimana 40000 orang mujahidin bisa mengalahkan 200000 orang tentara Romans dalam perang Yarmuk? Orang-orang yang tadinya bersama Rasulullah SAW, memilih menjadi munafikun karena menggunakan 'rasio' nya. Bayangkan....."rasio" memjadi pembeda antara mu'minin dan munafikin. Naudzubillah, tsumma naudzubillah. Lalu pertanyaannya kemudian, apakah salah kita menggunakan rasio dalam beragama?

***

Mungkin pertanyaannya yang harus diubah, rasio seperti apakah yang sesuai (comply to) dg iman kita? Pertama, bergantung pada fakta (facts) yang kasat mata saja tanpa memakai fakta yang bisa difikirkan atau dirasakan dapat mengelirukan. Ketika Nabi mengabarkan tentang peristiwa isra' dan mi'raj, Abu Jahal memakai fakta, bahwa perjalanan manusia saat itu dari masjidil haram ke masjidil aqsa bisa memakan waktu berbulan-bulan, membuat ia berkesimpulan bahwa nabi adalah pembohong. Lain halnya dengan Abubakar Assyiddiq RA, yang memilih fakta bahwa Nabi adalah orang yang tak pernah berbohong, dipercayai oleh orang yang beriman maupun tidak beriman. Dari situ, Abubakar RA berkesimpulan bahwa apapun yang disampaikan Nabi adalah kebenaran. Logic!

Kembali pada Ahlul Badr dan para munafikin diatas, nampaknya, para munafikin hanya melihat fakta yang terlihat dimata mereka bahwa jumlah mereka jauh lebih sedikit dari para musyirikin. Mereka kemudian berputusasa dan kemudian memilih meninggalkan Nabi. Padahal Ahlul Badr berkeyakinan bahwa dan punya logika bahwa bagaimana mungkin Allah yang Maha Kuasa akan meninggalkan Nabinya sendiri? Jika Allah yang Maha Kuasa menolong mereka, siapa yang bisa mengalahkan?

Kedua, logika atau rasio apapun, harus didahului dan atau diikuti oleh usaha yang sungguh-sungguh. Dalam sirah, kita  tahu bahwa Ahlul Badr dengan tingkat tawakkal yang tinggi, tetap memperhitungkan jumlah lawan dan strategi yang dipakai. Pilihan untuk menutup perigi-perigi minum yang ada adalah tindakan tepat pada masa itu. Dalam kehidupan sehari-hari, pernikahan dapat menjadi contoh. Seseorang yang kurang kemampuan, tetapi percaya pada bantuan Allah sebagaimana dalam surah An-Nuur (24): 32

"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”

Maka harus berusaha mendekatkan diri pada Allah, meluruskan niat, mejauhi dosa-dosa agar pertolongan Allah dapat turun. Sedangkan mereka, yang mengukur kemampuan mereka secara duniawi dan sadar belum akan sanggup menikah, maka hendaklah mereka berpuasa. Itu adalah usaha buat mereka!

Barang-siapa memiliki kemampuan (untuk menikah), maka menikahlah. Dan barangsiapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa karena puasa itu adalah perisai baginya (dari berbagai syahwat) Hadits shahih lighairihi: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1846) dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 2383).

Ketiga, harus menyadari bahwa ada bahagian atau porsi (portion) manusia, ada pula bahagian Allah. Diakhir segala usaha, maka tinggallah takdir dan ketentuan dari Allah. Dalam kasus onta, usaha kita ada lah mengikatnya, tinggallah Allah yang akhirnya menentukan onta itu akan hilang atau tidak. Dalam perang, strategi jitu telah ditetapkan dan semangat telah dipompakan (strategy, courage and willingness), tinggallah Allah yang menentukan siapa yang akan jadi pemenangnya. Dalam pernikahan pula, mencari jodoh yang terbaik menurut syariat Allah, dan biarkan Allah menentukan siapa jodoh kita. Disinilah letak pengertian struggle to surrender....
struggle to get the best destiny...
struggle to do the best...
surrender to God's will...

Pertanyaannya, apakah kita memang telah membuat pilihan yang terbaik menurut Allah?
Apakah kita telah melakukan yang terbaik...?
Do we do the best of our ability and till the end of our limits?
Apakah kita menyerah pada takdir yang Allah berikan? Apakah kita menyerah pada keingginan Allah, ataukah kita telah menyerah (give up)?

***

Ketiga syarat diatas, sesungguhnya diikat oleh sebuah harapan. Harapan membuat mata hati memandang dan menembus fakta-fakta yang ada. Harapan memberikan power kepada usaha yang dibuat. Harapan menembus waktu. Harapan membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin. Harapan menghilangkan rasa takut yang menyambar.

Harapan membuat Ahlul Badr tidak memandang beda jumlah musuh.
Harapan memberikan kekuatan kepada Ibu Nabi Ismail ditanah yang gersang, kering dan tandus.
Harapan membuat hati tenang menerima takdir yang telah ditetapkan.....

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (Yusuf (12): 87)


Bila datang kiamat sementara di tangan salah seorang diantara kamu ada anak pohon kurma, jika ia mampu menanam sebelum terjadi kiamat maka lakukanlah. (HR. Ahmad, diriwayatkan pula oleh Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad).

Jadi...kenapa engkau pupuskan harapanmu?????



Johor Bahru, Feb '09
Tulisan ini didedikasikan untuk seseorang yang selalu berfikir rasional berhati-hati dalam membuat keputusan. Semoga cara berfikirmu membawamu kepada curahan hidayah Allah dan mengumpulkan kita semua dalam kebaikan.......



Tuesday, February 3, 2009

Ku sambut amanahMU

  Alhamdulillah....segala syukur di panjatkan atas karuniaNya...
 
Setelah istirahat 8 tahun lebih kembali Allah mempercayakan kepada kami...

Tidak seperti ketiga kakaknya ,  kali ini ummi teler, susah makan, malas ngapa2in sukanya di rumah saja kecuali kalau abi ngajak pergi, tapi ummi senang menyambutmu nak....

walaupun fisik gak sekuat pada saat kakak2mu yang lain tapi ummi optimis bisa merawatmu ...insya Allah

semoga Allah selalu menjagamu nak, maafkan ummi ya nak jika asupan gizimu berkurang karena ummi susah makannya.

More about babies and free baby samples